Menebar Kebaikan Itu Bisa Lintas Bangsa

networkingSuatu malam, sahabat saya dari Saudi Arabia bernama Medo menelpon saya. Ia bercerita tentang perjuangannya saat ini untuk bisa segera maju ujian PhD. Saya paham bagaimana rasanya. Saya sudah melewatinya dan bagian ini sangat unik, berkesan namun tidak main-main. Ia meminta bantuan saya untuk mentranskripsi rekaman hasil konsultasinya. Saya katakan silahkan saja kirim dokumen dan file audionya. Diantara semua itu, satu hal menarik yang ia katakan adalah tentang sebuah dompet yang ia temukan dua hari sebelumnya.

Ia berkata bahwa ia menemukan sebuah dompet di pinggir jalan di daerah city di kota Melbourne. Ia sudah melihat dompet ini sebelumnya dan tidak tertarik untuk mengurusinya. Namun setelah selesai dengan kegiatannya, ia masih melihat dompet itu di jalan. Tak seorang pun yang hirau dan mengambilnya. Ia kemudian putuskan untuk mengambil dompet itu. Ketika ia buka, didalamnya berisi beberapa lembar uang, kartu pengenal dan surat ijin mengemudi. Yang menjadi menarik adalah kalau pemiliknya orang Indonesia. Ia tahu karena ia dekat dengan orang Indonesia dan pernah kesana.

Ia bertanya apakah saya kenal dengan nama ‘Burhan’. Namun nama ‘Burhan’ yang saya kenal ternyata tidak sesuai dengan ciri yang ia gambarkan. Dan teman saya ini orang Malaysia, bukan Indonesia. Ia kemudian mengirim foto SIM pemilik dompet via Whatsapp. Saya lihat ia masih muda. Mungkin masih studi Bachelor. Saya katakan kepada Medo saya coba bantu. Keesokan harinya, saya coba bertanya melalui Whatsapp kepada beberapa kawan. Dari kawan-kawan tersebut, ada satu sahabat saya bernama Iip. Saya biasa panggil dengan sebutan Kang Iip, karena ia Sunda. Kang Iip juga rekan seperjuangan saya di komunitas Indonesia Belajar. Bersama-sama, kami bahu membahu membantu perbaikan pendidikan Indonesia dengan berbagai cara, seperti beasiswa, mentoring, video dan cerita inspiratif.

Karena Kang Iip ini berlatar belakang jurnalis, ia pasti punya kawan banyak. Ia saya lihat menyebarkan broadcast saya ke milis komunitas Indonesia di Melbourne. Saya sebenarnya bisa juga namun saat itu saya masih on the go, sehingga tidak cukup handy melakukannya. Saya berencana akan melakukannya ketika sudah pulang di malam hari. Namun, ketika saya masih di tram, sebuah sms masuk, mengatakan bahwa ia adalah Burhan. Saya sungguh senang. Saya langsung sambungkan ke sahabat saya Medo. Mereka kemudian berjanji bertemu dan Medo mengembalikan dompet Burhan. Saya dan Medo tidak kenal Burhan. Medo orang Saudi yang tidak dekat konteksnya dengan seorang Burhan dari Indonesia. Namun saya lihat ketulusan hati dari seorang Medo. Kali ini, saya hanya menjadi perantara kebaikan Medo. Sebenarnya, berbuat baik itu tak kenal asal muasal, latar belakang dan bisa lintas bangsa. Ini masalah hati.

Tulisan ini saya ambil dari sini.

.:Selesai:.

The post Berbuat Baik Itu Bisa Lintas Bangsa appeared first on Menginspirasi.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Kebaya Pinjaman

KEBAYA PINJAMAN
Penulis: Pande Made Sumartini

Kebaya

Sinopsis: Pande saat ini sedang berada di Newark, US. Ia mencoba merefleksi salah satu mosaik hidupnya ketika seorang Ibu membantunya dulu. Apa yang ia rasakan dan bagaimana ia mengekspresikannya?

NEWARK. Membuka file-file foto lama, sebuah cerita terputar kembali di kepala saya. Kisah ini terjadi hampir enam tahun yang lalu. Betapa waktu cepat sekali berlalu dan banyak hal telah berubah. Saya mensyukuri setiap perjalanan yang saya lalui di kota kecil di utara pulau Bali itu.

Hari itu entah hari apa, saya tidak ingat lagi. Namun kesan yang melekat di kepala saya begitu kental. Seperti menonton film hitam putih di telivisi kotak Akari merek jaman dulu. Saya dan teman-teman begitu gembira karena kami sudah menyelesaikan ujian sarjana beberapa hari sebelumnya. Perbaikan skripsi pasca ujian bukan masalah besar bagi saya, karena tulisan saya tidak memiliki hal-hal krusial yang harus diperbaiki. Diantara kesenangan itu saya pribadi memiliki kecemasan yang sedikit lebih besar dari teman-teman. “Lulus” berarti saya harus segera mendapatkan pekerjaan, yang saya harapkan akan cukup baik untuk memulai lembaran baru, untuk membayar utang kuliah yang telah menumpuk hampir empat tahun. Ini termasuk utang materi dan utang budi, yang akan saya bawa seumur hidup. Belum lagi pikiran tentang diri saya yang belum memiliki sepeda motor untuk dibawa melamar pekerjaan dan kemudian bekerja. Sungguh hari-hari setelah ujian sarjana membuat saya merasa seperti naik wahana Transformer Ride di Universal Studio Hollywood (yang saat itu saya hanya bisa mimpikan).

Hari itu, saya juga merasa canggung sekaligus sedikit tidak percaya diri. Untuk pertama kalinya saya akan pergi ke salon kecantikan untuk dirias dalam rangka menyiapkan foto ijasah. Dalam hati saya sedikit menggerutu, mengapa foto ijasah wanita mesti dalam busana adat dengan tata rias segala. Ingin rasanya saya memiliki foto ijasah yang terkesan lebih professional, seperti foto ijasah para pria, dengan menggunakan kemeja berkerah dan jas. Hal ini akan menunjukkan wajah-wajah yang professional seperti aslinya, bukaan rekayasa riasan yang tebalnya sampai satu sentimeter. Di sisi lain kondisi keuangan ketika itu yang sangat pas-pasan membuat sesi berfoto dan ke salon menjadi beban pikiran. Ditambah lagi saya tidak memiliki pakaian yang sesuai. Meminjam pada teman juga tidak memungkinkan karena ukuran badan saya yang di atas rata-rata ukuran teman-teman saya. Bahkan, ibu dan nenek saya selalu berkata “Pang saruan lacure, awake gede” (Agar tidak terlalu kentara miskin, badanmu kan besar).

Dan berangkatlah saya berbekal kebaya dan kain lusuh bersama kawan-kawan ke sebuah salon di Jalan Jalak. Ibu salon menyambut kami dengan senyum ramah. Beliau walau sudah berumur namun masih sangat cantik. Nama salonnya kalau tidak salah ada kata Ayu-nya. Sungguh cocok dengan sang pemilik. Sehari sebelumnya, salah seorang teman kami sudah bertandang dan membuat janji untuk riasan hari itu. Sudah disepakati kami hanya perlu membawa pakaian. Selain tata rias wajah dan rambut, Ibu salon akan menyediakan segala kebutuhan hiasan rambut. Dan mulailah tangan dingin ibu penata rias dibantu oleh menantunya, menyulap wajah-wajah kami yang kurang perawatan menjadi sedikit ‘cling’. Walaupun merasa tidak percaya diri, saya cukup senang juga dirias seperti itu, seperti kebanyakan wanita.

Sekitar dua jam kemudian, kami semua sudah tampak berbeda. Kemudian saatnya mengganti pakaian. Saya mengambil kebaya dan kain dari tas tangan warisan sepupu saya. Lalu mulai melilitkannya pada tubuh saya. Seingat saya kain dan kebaya itu dibelikan Ibu saya beberapa tahun sebelumnya dengan harga masing-masing lima belas ribu rupiah. Dalam acara adat dan keagamaan Hindu biasa, kain dan kebaya itu wajar-wajar saja. Namun dalam kondisi wajah dirias bak putri raja yang akan dilamar pangeran berkuda putih, nampaknya pakaian saya sungguh tak sepadan. Tapi apa boleh buat, walau merasa aneh, saya bertekad, “a piece of cloth should not ruin my day, today will end quickly, and soon it will be forgotten.” Ini cara saya menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan yang terjadi dalam keseharian saya. Saya bertekad untuk lebih terfokus pada kebahagiaan melihat wajah-wajah kami yang tiba-tiba cantik. Terasa lucu dan unik!

Tak saya sadari, ketika mengenakan pakaian ternyata mata Ibu penata rias tertuju pada saya. Mungkin merasa kasihan pada kecantikan saya – yang walau tak secantik Julia Robert tapi tak kalah dari Julia Perez – (hehehe) beliau mendekat dan menyodorkan satu stel kebaya dan kain berwarna pink. “Adik pakai ini saja, tidak usah menyewa, ibu kasi pinjam gratis”. OH MY GOD, MY LORD, JESUS, BETARA (DEWA) DARI SABANG SAMPAI MERAUKE, ada sensasi aneh di perut dan dada saya ketika beliau menawarkan pakaian bernuansa hari Valentine itu. Saya tidak ingat apa saya hendak menangis atau hanya cengar-cengir bahagia dengan kebaikan Ibu penata rias yang cantik luar dalam itu. Namun hal ini sungguh tak akan saya lupakan. Oke pernyataan sebelumnya tentang ‘today will be forgotten” diralat menjadi kalimat negatif yang memberi makna positif dalam perjalanan hidup saya.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah yang juga diucapkan oleh Wakil Presiden Amerika Serikat beberapa hari lalu dalam acara wisuda University of Delaware yang saya ikuti sebagai relawan “You may forget what they said but never how they made you feel.”

Terima kasih Ibu Ayu, pemilik dan pengelola salon kecantikan di Jalan Jalak Singaraja. Walau ibu tidak kenal saya, bukan ponakan, bukan anak kos sekitar komplek, tapi Ibu sudah menjadi salah satu nuansa manis dalam sejarah hidup saya.

Salam dari kota kecil Newark, Delaware, USA
Tulisan ini saya buat dalam persiapan pulang kampung setelah merantau 10 bulan di Negeri Paman Sam sebagai penerima Fulbright FLTA.

Sumber gambar

.:Selesai:.

The post Kebaya Pinjaman appeared first on Menginspirasi.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Bagian Tiga: Can You Carry It for Me, Please?

Bagian Tiga: Can You Carry It for Me, Please?
Penulis: Manik Permata & Made Hery Santosa

Sinopsis: Seorang anak kecil yang kira-kira berumur lima tahun tampak kerepotan membawa tas ranselnya. Ia merengek miminta bantuan ibunya yang tak kalah repotnya membawa koper-koper besar menuju tempat check in di bandara. Apa yang anak tersebut katakan? Bagaimana ia merespon ibunya?

Carry BagSaya sedang mengantar teman yang akan pergi ke luar negeri. Di bandara, kami melihat seorang ibu berdua dengan anaknya sedang kerepotan membawa barang-barang. Tangan si ibu sudah penuh dengan dua koper besar dan satu ransel kecil. Si anak, yang mungkin sekitar lima tahun, juga kerepotan membawa satu ransel dan satu boneka di tangannya. Si anak terlihat tidak senang.

“Lihat tuh, kayaknya sebentar lagi anak itu menangis” kata teman saya. Mendengar ini, saya diam saja mengamati.

“Kasihan tuh anaknya disuruh bawa tas sendiri” kata teman saya lagi, dan saya tetap cuma diam, tersenyum kecil kali ini.

Mommy, I’m tired, I don’t want to carry this anymore. Can you carry it for me, Mommy?” rengek si anak.

Mungkin benar kata teman saya, sebentar lagi ia akan menangis.

Well, you’re the one who wanted to put your toys in there, sweetie, so you carry it,” balas si ibu.

Lagi-lagi respon yang ajaib yang saya dengar. Yang di luar dugaan.

“Tega sekali ibunya ya, anak kecil begitu disuruh bawa tas sendiri,” kata teman saya lagi. “Apa dia tidak dengar respon ibunya tadi?”

“Kan tas anak itu mainan semua isinya, ya punya dia lah,” kata saya, kali ini merespon.

“Tapi namanya juga anak kecil, kan bisa ibunya yang bawain,” teman saya membalas.

“Tapi anak itu yang bawa sendiri kan juga bisa,” saya berusaha menjelaskan.

Lalu teman saya hanya berkata sesuatu yang kedengaran seperti ‘huft’ saja.

Kejadian seperti ini memang tampaknya sederhana. Sebelum dua kejadian sebelumnya (baca cerita bagian satu dan dua), saya bisa jadi berpikir kalau saya jadi ibunya, saya tentu saja akan membawakan ransel anak saya.

“Tas ransel anak kan kecil, tidak begitu berat, apa susahnya sih.”

Seperti kata teman saya, kasihan kan anak kecil harus susah begitu. Tapi saya setuju dengan ibu itu. Itu adalah tas si anak, isinya pun mainan si anak semua. Tidak ada salahnya dia belajar bertanggung jawab sedari kecil. Harapannya, di lain kesempatan dia bepergian, dia akan lebih bijak mengisi tas bawaannya.

Sumber gambar

.:Selesai:.

 Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Berbuat Baik Itu Tak Perlu Imbalan

Berbuat Baik Itu Tak Perlu Imbalan
Penulis: Made Hery Santosa

HP Samsung yang saya temukan di bis 246

HP Samsung yang saya temukan di bis 246

Saya baru masuk ke bus 246 di pagi hari yang mulai dingin. Musim gugur sudah datang dan daun-daun maple mulai menguning. Bus masih kosong. Setelah touch on kartu myki, saya menuju kursi belakang. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada benda kotak menyala. Ternyata itu sebuah HP Samsung Galaxy! Masih baru tampaknya. Saya tertegun. Saat itu saya hanya sendirian di dalam bus yang stand by ini. Supir bis sedang di luar menunggu jam berangkat. Tidak ada siapa-siapa. Saya putuskan mengambil HP canggih ini dan saya masukkan tas. Saya sudah harus mengejar waktu.

HP itu terus berbunyi. Saat saya mengambil kembali dari tas saya, sudah ada 6 kali panggilan tak terjawab. Tertera nama ‘Ibby’. Saya tidak bisa menerka dari mana jenis nama seperti ini. Sepertinya Jepang. Namun di layar depan ada gambar satu klub sepak bola a la Australia. Namanya footy. Nama klubnya Geelong FC. Saya paham ini olahraga sangat populer di Australia. Namun saya tidak terlalu memahaminya. Saya suka sepakbola bundar, bukan lonjong. Saya suka klub-klub hebat. Tentu saja, salah satunya Barcelona. Kembali ke HP ini, lagi-lagi ia bergetar. Saya bisa bayangkan betapa panik si pemilik. Saya putuskan menjawab. Suara laki-laki muda. Saya katakan saya menemukan HP-nya di bus dan akan saya kembalikan. Jadi jangan khawatir. Namun karena saya masih ada kegiatan lain, saya katakan saya akan bertemu dia di Agora – depan perpustakaan kampus La Trobe – sekitar jam 3 siang. Saya lanjutkan kegiatan saya.

Jam 3 siang HP tersebut sudah bergetar lagi. Saya tahu ini pemiliknya. Karena saya masih sibuk saya katakan belum bisa bertemu. Saya sebenarnya tidak biasa tidak menepati janji. Namun kesibukan ini tidak bisa saya hindari. Karenanya, saya tawarkan untuk bertemu satu jam lagi. Saya yakinkan kembali bahwa saya akan mengembalikan HP-nya. Ia mengatakan akan ada kuliah jam itu namun akan keluar kelas untuk bisa bertemu. Di depan mesin ATM.

Jam 4, saya tergesa berjalan ke Agora. Hari agak berubah cerah. Saya merasa gerah. Setelah sampai, saya menunggu di depan mesin ATM. Saya tidak tahu apa ciri pemilik. Apa kebangsaannya. Kemudian, berdasar feeling saja, saya melihat seorang anak muda, lokal (dari Australia) tampak mencari-cari. Saya langsung hampiri, dan saya tanya. Ternyata ia pemiliknya. Saya langsung berikan, dan ia mengucapkan terima kasih. Sederhana saja. Saya tidak berharap apa-apa. Bagi saya, prinsip menebar kebaikan tidak perlu imbalan.

Tulisan ini saya ambil dari sini.

.:Selesai:.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

A Silver-haired Girl

A SILVER-HAIRED GIRL
Writer: Made Hery Santosa

Silver haired girl“Why is my hair silver, mother?” asked a young, but crippled, little girl to her mother on a cold winter day.
“Oh, it’s because you were born at night,” said the mother, wisely looking at the girl’s round eyes.
“I don’t understand,” said the young girl. Her eyes got widened. “Why could it become silver when I was born at night?” The girl asked, full of wonder.
“That night was full of stars and the moon shone brightly. Seemed perennial. And one day, you’ll see,” replied her mother.

*

“Why is my hair silver mother?” A one-legged child asked her mother on a dry summer day.
“It’s because you were born during the daylight, my love,” replied the mother, full of compassion
“I don’t understand,” the girl responded with her eyes got smaller, “why would it be silver if I was born during the daylight?
“That day was very hot with a dry air breeze. It’s seemingly perpetual. And one day you’ll see.”

*

“Why is my hair silver, mother?” asked a one-eyed cheerful daughter to her mother, while she’s in roaming walks.
“Oh, it’s because you were born in a day where the sun was reluctant, sweetheart.” Her mother replied patiently.
“I don’t understand,” replied her quickly, “why would my hair be silver when there was little sun?”
Her mother, while caressing her, said “Because the moon would accompany.”

*

“Why is my hair silver, mother? Why is it different to others?” A young girl asked her mother curiously.
“It’s because you were born when the sea was in tides.” Her mother replied, gently embracing her.
“I don’t understand,” she shook her shoulders quite strongly. “Why would my hair become silver if the tides were high?”
“My love, the tide is a mystery. The full moon shone brightly and the sea touched its passion.” Her mother replied, full of warmth.

Image source
Taken from here

.:The End:.

Click this ISSUU link to download and read the e-book version. Don’t forget to share, thank you :)

Orangtua Masih “Terlena” Nilai Akademik Dibanding Pendidikan Karakter

Artikel ini diambil dari Kompas. Bisa untuk direnungkan untuk perbaikan pendidikan Indonesia. Selamat membaca kawan :))

KOMPAS.com — Sebagai orangtua, siapa pun ingin anak-anaknya bisa bersekolah dengan reputasi bagus, berprestasi, dan memiliki fasilitas memadai. Orang selalu menganggap gedung dan fasilitas sekolah bagus itu sesuai perkembangan zaman sehingga sekolah seperti itu dinilai berkualitas bagus pula.

Namun demikian, berapa banyak di antara orangtua itu yang lebih memikirkan kurikulum pelajaran yang diajarkan di sekolah? Pendidikan karakter seperti apa yang diajarkan di sana dan bagaimana kualitas guru-gurunya, serta budaya di sekolah itu?

“Ini ibarat melihat mutiara dalam kotak perhiasan yang cantik. Kebanyakan orang hanya fokus pada kotak pembungkus di luarnya, dan bukan pada mutiara di dalamnya. Terlalu fokus pada kotak luarnya hanya akan membuat mutiaranya jadi terlupakan. Ini paradigma yang harus diubah orangtua saat bicara pendidikan,” kata Bill McIntyre, Director of International Education Practice Franklin Covey, dalam seminar guru dan kepala sekolah “The Leader in Me” di Jakarta, Sabtu (5/4/2014) lalu.

Menurut Bill, tak salah jika orangtua melihat “penampakan luar” sekolahnya karena hal tersebut juga menjadi salah satu komponen alat peraga pendukung proses pembelajaran. Namun, rasanya semua itu akan sangat percuma jika sekolah itu tak memiliki perhatian khusus pada pendidikan dan perkembangan karakter peserta didiknya.

“Anak-anak adalah mutiara di dalam kotak, maka fokuslah untuk mendidiknya tidak hanya dari luarnya, yaitu sisi akademik, tapi juga karakter dalam dirinya, khususnya tentang kepemimpinan. Ini bekal untuk mereka saat dewasa nanti,” ujarnya.

Dalam memilih sekolah, lanjut Bill, mempertimbangkan pendidikan karakter adalah salah satu hal penting yang harus diperhatikan. Dia menambahkan, pendidikan karakter kepemimpinan (leadership operating system) yang dimiliki sekolah tak kalah penting dibandingkan faktor prestasi akademik.

“Karakter dan kepemimpinan diri adalah landasan penting yang harus dimiliki setiap orang. Ini adalah kunci untuk mendidik anak yang tahu budaya, punya prestasi akademik tinggi, dan kemampuan lainnya yang dibutuhkan saat dewasa sekaligus memiliki tingkat pengendalian diri, toleransi, sopan santun, berjiwa pemimpin, serta karakter sebagai pribadi yang baik. Ini harus diajarkan sejak dini,” kata Bill.

Tulisan ini bisa dibaca di tautan ini. Penting membuka perspektif beragam, dari berbagai konteks berbeda. Yang paling baik yang digunakan. Terima kasih sudah membaca. Menginspirasi ingin mengumpulkan tulisan terkait untuk kepentingan arsip. Salam Menginspirasi!

Dunia Makin Rumit, Orangtua di AS Fokus pada Pendidikan Karakter

Artikel ini diambil dari Kompas. Bisa untuk direnungkan untuk perbaikan pendidikan Indonesia. Selamat membaca kawan :))

KOMPAS.com — Bicara tentang pendidikan, boleh jadi, Indonesia perlu berkaca pada perubahan perspektif dan metode pendidikan di negara lain, salah satunya Amerika Serikat. Satu hal yang bisa dicontoh dari sekolah-sekolah di AS adalah penerapan pendidikan karakter dan kepemimpinan anak didik di sekolah.

“Semua anak-anak punya potensi untuk jadi pemimpin, paling tidak jadi pemimpin dirinya sendiri. Di sinilah pendidikan karakter sangat penting untuk mengenali diri mereka sendiri,” kata Murriel Summers, Kepala Sekolah AB Combs Leadership Magnet Elementary School di AS, pada seminar “The Leader in Me” di Jakarta, Sabtu (5/4/2014) lalu.

Murriel bersama dengan staf mengembangkan sekolah berbasis karakter kepemimpinan di negaranya. Dengan mengenali serta mengembangkan bakat unik setiap peserta didiknya, peserta didik di sekolah AB Combs berhasil meraih prestasi akademik di atas rata-rata.

“Pelatihan karakter kepemimpinan ini secara tak langsung juga akan berpengaruh pada peningkatan kemampuan akademik anak. Jadi, orangtua tak perlu khawatir akan tingkat kepandaian anaknya,” ujarnya.

Sekalipun awalnya banyak orangtua yang ragu, lanjut Murriel, sekolahnya yang juga merupakan sekolah negeri miskin di AS ternyata semakin memiliki banyak peserta didik. Artinya, lanjut dia, pemikiran orangtua di AS mulai berubah tentang pendidikan.

Murriel, yang juga menceritakan kisah suksesnya sebagai kepala sekolah dalam buku The Leader in Me, karya Stephen R Covey, mengatakan bahwa ia juga mengadakan perbincangan dengan orangtua murid tentang apa yang diiinginkan orangtua dari sekolah. Hasilnya, orangtua di AS justru ingin guru-guru di sekolah mendidik anak-anaknya dengan kemampuan bergaul, bertanggung jawab, toleransi, mampu memecahkan masalah, dan belajar kreatif.

Hal cukup mengejutkan, orangtua tersebut ternyata tidak menyinggung masalah prestasi akademik dan nilai-nilai pelajaran yang bagus dari anak-anaknya. Padahal, pada 1990-an, masih banyak orangtua menuntut sekolah dan anak-anaknya bisa mencetak nilai pelajaran yang tinggi.

Pada masa itu, ada tiga pelajaran pokok yang menjadi titik berat dan standar kepandaian, yaitu membaca, menulis, dan matematika. Stephen R Covey dalam bukunya itu menuliskan bahwa kemungkinan besar hal tersebut disebabkan karena adanya mimpi buruk yang terjadi di sekolah pada 1999 lalu.

“Beberapa orang percaya bahwa peristiwa penembakan yang terjadi di Columbine High School di Littleton, Colorado, pada bulan April 1999 membuat orangtua dan pendidik lebih mencemaskan keselamatan fisik dan emosi anak-anak mereka di sekolah ketimbang prestasi akademik,” tulis Stephen.

Dunia semakin rumit

Melihat lebih ke belakang, perubahan paradigma orangtua tentang pendidikan anak sebetulnya sudah mulai terjadi pada tahun 1989. Sosiolog dari University of Michigan, Duane Alwin, bahkan mencatat bahwa pada 1920 silam, orangtua lebih mengutamakan ketaatan, kepatuhan, rasa hormat pada orangtua dan agama, serta perilaku sopan sebagai sifat yang mereka ingin anak-anak miliki.

Namun, dalam perjalanan waktu semua itu berubah. Pada awal 1990-an, orangtua lebih menginginkan anak-anak untuk memiliki kemampuan berpikir untuk diri sendiri, bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri, memiliki insiatif tinggi, dan toleransi terhadap perbedaan.

Pertanyaannya, apa yang membuat orangtua berubah sikap?

“Dunia semakin rumit, orangtua ingin anak-anak mereka sukses dalam hidup dan mampu bertahan. Mereka tahu bahwa pekerjaan yang bagus mengharuskan kita mampu berpikir sendiri,” kata Alwin.

Kini, pada abad ke-21, kebutuhan kaum muda untuk lebih mandiri dan lebih bertanggung jawab akan diri dan lingkungan sekitarnya semakin tinggi. Oleh karena itu, pendidikan karakter yang baik sangat dibutuhkan anak demi bisa memenuhi kebutuhan serta tuntutan zaman.

Tulisan ini bisa dibaca di tautan ini. Penting membuka perspektif beragam, dari berbagai konteks berbeda. Yang paling baik yang digunakan. Terima kasih sudah membaca. Menginspirasi ingin mengumpulkan tulisan terkait untuk kepentingan arsip. Salam Menginspirasi!