Berbuat Baik Itu Tak Perlu Imbalan

Berbuat Baik Itu Tak Perlu Imbalan
Penulis: Made Hery Santosa

HP Samsung yang saya temukan di bis 246

HP Samsung yang saya temukan di bis 246

Saya baru masuk ke bus 246 di pagi hari yang mulai dingin. Musim gugur sudah datang dan daun-daun maple mulai menguning. Bus masih kosong. Setelah touch on kartu myki, saya menuju kursi belakang. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada benda kotak menyala. Ternyata itu sebuah HP Samsung Galaxy! Masih baru tampaknya. Saya tertegun. Saat itu saya hanya sendirian di dalam bus yang stand by ini. Supir bis sedang di luar menunggu jam berangkat. Tidak ada siapa-siapa. Saya putuskan mengambil HP canggih ini dan saya masukkan tas. Saya sudah harus mengejar waktu.

HP itu terus berbunyi. Saat saya mengambil kembali dari tas saya, sudah ada 6 kali panggilan tak terjawab. Tertera nama ‘Ibby’. Saya tidak bisa menerka dari mana jenis nama seperti ini. Sepertinya Jepang. Namun di layar depan ada gambar satu klub sepak bola a la Australia. Namanya footy. Nama klubnya Geelong FC. Saya paham ini olahraga sangat populer di Australia. Namun saya tidak terlalu memahaminya. Saya suka sepakbola bundar, bukan lonjong. Saya suka klub-klub hebat. Tentu saja, salah satunya Barcelona. Kembali ke HP ini, lagi-lagi ia bergetar. Saya bisa bayangkan betapa panik si pemilik. Saya putuskan menjawab. Suara laki-laki muda. Saya katakan saya menemukan HP-nya di bus dan akan saya kembalikan. Jadi jangan khawatir. Namun karena saya masih ada kegiatan lain, saya katakan saya akan bertemu dia di Agora – depan perpustakaan kampus La Trobe – sekitar jam 3 siang. Saya lanjutkan kegiatan saya.

Jam 3 siang HP tersebut sudah bergetar lagi. Saya tahu ini pemiliknya. Karena saya masih sibuk saya katakan belum bisa bertemu. Saya sebenarnya tidak biasa tidak menepati janji. Namun kesibukan ini tidak bisa saya hindari. Karenanya, saya tawarkan untuk bertemu satu jam lagi. Saya yakinkan kembali bahwa saya akan mengembalikan HP-nya. Ia mengatakan akan ada kuliah jam itu namun akan keluar kelas untuk bisa bertemu. Di depan mesin ATM.

Jam 4, saya tergesa berjalan ke Agora. Hari agak berubah cerah. Saya merasa gerah. Setelah sampai, saya menunggu di depan mesin ATM. Saya tidak tahu apa ciri pemilik. Apa kebangsaannya. Kemudian, berdasar feeling saja, saya melihat seorang anak muda, lokal (dari Australia) tampak mencari-cari. Saya langsung hampiri, dan saya tanya. Ternyata ia pemiliknya. Saya langsung berikan, dan ia mengucapkan terima kasih. Sederhana saja. Saya tidak berharap apa-apa. Bagi saya, prinsip menebar kebaikan tidak perlu imbalan.

Tulisan ini saya ambil dari sini.

.:Selesai:.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s