Kebaya Pinjaman

KEBAYA PINJAMAN
Penulis: Pande Made Sumartini

Kebaya

Sinopsis: Pande saat ini sedang berada di Newark, US. Ia mencoba merefleksi salah satu mosaik hidupnya ketika seorang Ibu membantunya dulu. Apa yang ia rasakan dan bagaimana ia mengekspresikannya?

NEWARK. Membuka file-file foto lama, sebuah cerita terputar kembali di kepala saya. Kisah ini terjadi hampir enam tahun yang lalu. Betapa waktu cepat sekali berlalu dan banyak hal telah berubah. Saya mensyukuri setiap perjalanan yang saya lalui di kota kecil di utara pulau Bali itu.

Hari itu entah hari apa, saya tidak ingat lagi. Namun kesan yang melekat di kepala saya begitu kental. Seperti menonton film hitam putih di telivisi kotak Akari merek jaman dulu. Saya dan teman-teman begitu gembira karena kami sudah menyelesaikan ujian sarjana beberapa hari sebelumnya. Perbaikan skripsi pasca ujian bukan masalah besar bagi saya, karena tulisan saya tidak memiliki hal-hal krusial yang harus diperbaiki. Diantara kesenangan itu saya pribadi memiliki kecemasan yang sedikit lebih besar dari teman-teman. “Lulus” berarti saya harus segera mendapatkan pekerjaan, yang saya harapkan akan cukup baik untuk memulai lembaran baru, untuk membayar utang kuliah yang telah menumpuk hampir empat tahun. Ini termasuk utang materi dan utang budi, yang akan saya bawa seumur hidup. Belum lagi pikiran tentang diri saya yang belum memiliki sepeda motor untuk dibawa melamar pekerjaan dan kemudian bekerja. Sungguh hari-hari setelah ujian sarjana membuat saya merasa seperti naik wahana Transformer Ride di Universal Studio Hollywood (yang saat itu saya hanya bisa mimpikan).

Hari itu, saya juga merasa canggung sekaligus sedikit tidak percaya diri. Untuk pertama kalinya saya akan pergi ke salon kecantikan untuk dirias dalam rangka menyiapkan foto ijasah. Dalam hati saya sedikit menggerutu, mengapa foto ijasah wanita mesti dalam busana adat dengan tata rias segala. Ingin rasanya saya memiliki foto ijasah yang terkesan lebih professional, seperti foto ijasah para pria, dengan menggunakan kemeja berkerah dan jas. Hal ini akan menunjukkan wajah-wajah yang professional seperti aslinya, bukaan rekayasa riasan yang tebalnya sampai satu sentimeter. Di sisi lain kondisi keuangan ketika itu yang sangat pas-pasan membuat sesi berfoto dan ke salon menjadi beban pikiran. Ditambah lagi saya tidak memiliki pakaian yang sesuai. Meminjam pada teman juga tidak memungkinkan karena ukuran badan saya yang di atas rata-rata ukuran teman-teman saya. Bahkan, ibu dan nenek saya selalu berkata “Pang saruan lacure, awake gede” (Agar tidak terlalu kentara miskin, badanmu kan besar).

Dan berangkatlah saya berbekal kebaya dan kain lusuh bersama kawan-kawan ke sebuah salon di Jalan Jalak. Ibu salon menyambut kami dengan senyum ramah. Beliau walau sudah berumur namun masih sangat cantik. Nama salonnya kalau tidak salah ada kata Ayu-nya. Sungguh cocok dengan sang pemilik. Sehari sebelumnya, salah seorang teman kami sudah bertandang dan membuat janji untuk riasan hari itu. Sudah disepakati kami hanya perlu membawa pakaian. Selain tata rias wajah dan rambut, Ibu salon akan menyediakan segala kebutuhan hiasan rambut. Dan mulailah tangan dingin ibu penata rias dibantu oleh menantunya, menyulap wajah-wajah kami yang kurang perawatan menjadi sedikit ‘cling’. Walaupun merasa tidak percaya diri, saya cukup senang juga dirias seperti itu, seperti kebanyakan wanita.

Sekitar dua jam kemudian, kami semua sudah tampak berbeda. Kemudian saatnya mengganti pakaian. Saya mengambil kebaya dan kain dari tas tangan warisan sepupu saya. Lalu mulai melilitkannya pada tubuh saya. Seingat saya kain dan kebaya itu dibelikan Ibu saya beberapa tahun sebelumnya dengan harga masing-masing lima belas ribu rupiah. Dalam acara adat dan keagamaan Hindu biasa, kain dan kebaya itu wajar-wajar saja. Namun dalam kondisi wajah dirias bak putri raja yang akan dilamar pangeran berkuda putih, nampaknya pakaian saya sungguh tak sepadan. Tapi apa boleh buat, walau merasa aneh, saya bertekad, “a piece of cloth should not ruin my day, today will end quickly, and soon it will be forgotten.” Ini cara saya menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan yang terjadi dalam keseharian saya. Saya bertekad untuk lebih terfokus pada kebahagiaan melihat wajah-wajah kami yang tiba-tiba cantik. Terasa lucu dan unik!

Tak saya sadari, ketika mengenakan pakaian ternyata mata Ibu penata rias tertuju pada saya. Mungkin merasa kasihan pada kecantikan saya – yang walau tak secantik Julia Robert tapi tak kalah dari Julia Perez – (hehehe) beliau mendekat dan menyodorkan satu stel kebaya dan kain berwarna pink. “Adik pakai ini saja, tidak usah menyewa, ibu kasi pinjam gratis”. OH MY GOD, MY LORD, JESUS, BETARA (DEWA) DARI SABANG SAMPAI MERAUKE, ada sensasi aneh di perut dan dada saya ketika beliau menawarkan pakaian bernuansa hari Valentine itu. Saya tidak ingat apa saya hendak menangis atau hanya cengar-cengir bahagia dengan kebaikan Ibu penata rias yang cantik luar dalam itu. Namun hal ini sungguh tak akan saya lupakan. Oke pernyataan sebelumnya tentang ‘today will be forgotten” diralat menjadi kalimat negatif yang memberi makna positif dalam perjalanan hidup saya.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah yang juga diucapkan oleh Wakil Presiden Amerika Serikat beberapa hari lalu dalam acara wisuda University of Delaware yang saya ikuti sebagai relawan “You may forget what they said but never how they made you feel.”

Terima kasih Ibu Ayu, pemilik dan pengelola salon kecantikan di Jalan Jalak Singaraja. Walau ibu tidak kenal saya, bukan ponakan, bukan anak kos sekitar komplek, tapi Ibu sudah menjadi salah satu nuansa manis dalam sejarah hidup saya.

Salam dari kota kecil Newark, Delaware, USA
Tulisan ini saya buat dalam persiapan pulang kampung setelah merantau 10 bulan di Negeri Paman Sam sebagai penerima Fulbright FLTA.

Sumber gambar

.:Selesai:.

The post Kebaya Pinjaman appeared first on Menginspirasi.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Advertisements

6 thoughts on “Kebaya Pinjaman

  1. Wah, Mbak Pande saya kira di Newark New Jersey. Hehehehe
    Perkenalkan saya kadek doi, Sedang studi di Montclair New Jersey. Mbak angkatan mba anisa dan mas edward ya?
    salam kenal

    • Adik Doi, Pande nulis ini thn lalu sebelum balik Indo. Ekarang lg master di La Trobe. Bli sdh konekkan via FB, sila maenkan ya 🙂

      Mana ceritanya? Bagi dong di Menginspirasi hehe
      Bli Hery

      • Ohya, duh saya kurang teliti melihat tanggalnya. Tapi tak apalah, tetap ingin berkenalan dengan beliau yang menginspirasi. Waduh, apa ya Bli? topiknya saya cari dulu ya 🙂 senang sekali kalau nanti bisa ikut bercerita juga. salam. kadek doi.

      • Hehe gpp Adek. Ya pasti ada. Di blog nya bny ceri(T)a bgs2 hehe… Bli buat blog ini dulu tp blm sempat update2 lg krn kesibukan. Semoga ada satu dari Doi 🙂

        Semangat!!!

      • Ya ampun itu blog personal curhat kegalauan Bli, hahaha. terima kasih sudah mampir ya. Siap nanti tiang rampungkan dulu ya ceritanya biar bisa lebih dinikmati sama pembaca. hore!

      • Ga galau dan ngenes kan haha…

        Hurraaa! Bli tunggu deh. Yakin ada bny yg bs ditulis kl diluar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s