Bagian Dua: Dad, Can I Use the Yellow Glass, Please?

Bagian Dua: Dad, Can I Use the Yellow Glass, Please?
Penulis: Manik Permata

Sinopsis: Keluarga Hiashi, Nguyen dan Smith sedang piknik bersama di sebuah taman di akhir pekan yang cerah. Kejadian menarik muncul ketika anak laki-laki Robert dan Jane yang baru berumur lima tahun meminta juice dengan gelas berwarna kuning. Apa yang terjadi? Selamat membaca ya.

Juice and KidSaya dan istri saya, Haruki datang bersama Dat dan Hung bergerak menuju tempat kawan saya Jane dan suaminya Robert yang sudah duduk di sebuah taman di tepi sungai. Kami berasal dari Jepang sedangkan Dat dan Hung berasal dari Vietnam. Keluarga kami kemudian berkawan baik dengan pasangan Jane dan Robert yang asli Australia karena Haruki, Hung dan Jane merupakan rekan kerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Hari ini adalah akhir pekan yang cerah dan kami setuju untuk piknik bersama dengan keluarga masing-masing. Dengan membawa makanan sendiri, kami mulai asyik berbincang. Anak-anak mulai asyik bermain di dekat bunga-bunga yang tampak ceria bermandikan matahari. Semua tampak senang karena hari itu hari libur dan udara terasa segar.

Waktunya makan. Anak dari Jane dan Robert, berumur lima tahun, makan dengan terburu-buru, dan ingin cepat kembali bermain.

Dad, can I have that juice, please? With the yellow glass,” kata anak laki-laki itu di sela-sela makannya.

I’m using the yellow glass. Do you want to use this blue glass?” kata Robert menawarkan.

No! I want the yellow glass, Daddy,” rengek anaknya kembali.

You have to wait until I finish my drink then,” balas Robert.

Wajah anak itu sekarang cemberut, sambil terus menguyah-ngunyah rotinya dengan kesal. Hampir saya merasa kasihan. Teman-teman yang lain mungkin juga merasa begitu. Awkward silence.

Sorry mate, sometimes you can’t always get what you want” kata Robert lagi, karena melihat anaknya terus cemberut, “But I’d be happy to pour you some juice in this blue glass.

Saya menikmati makanan sambil berpikir. Kalau saya, mungkin saja tanpa terlalu berpikir banyak akan memberikan gelas kuning yang sedang saya pakai untuk anak. Apa sih susahnya, cuma gelas, saya akan mengalah mengganti dengan gelas yang lain. Tapi anak itu sudah harus mendengar pelajaran hidup macam ‘you can’t always get what you want’ di usianya yang baru lima tahun. Saya mencoba berpikir lagi. Mungkin ada pelajaran lain yang ingin disampaikan si ayah. Tidak ada salahnya anak lelaki itu belajar sejak dini bahwa dengan siapapun ia perlu mengalah. Bahwa dengan merengek tidak akan membantunya mendapatkan apa yang ia mau. Hmm, mungkin semuanya akan menjadi lebih mudah nantinya, in the long run.

Sumber gambar

.:Selesai:.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Bagian Satu: Mommy, the Yogurt Has a Princess Picture!

BAGIAN SATU: MOMMY, THE YOGURT HAS A PRINCESS PICTURE!
Penulis: Manik Permata

Sinopsis: Putri sedang mencari bahan keperluan bayi di sebuah supermarket ketika ia melihat seorang anak lucu meminta yogurt kepada ibunya. Terjadi sebuah percakapan pendek menarik antara keduanya. Bagaimana si anak meminta? Bagaimana si ibu menekankan pemahaman dan tanggung jawab? Simak ceritanya ya…

Yogurt-Kid

Sebagai calon ibu, Putri sering pergi hunting untuk mengecek dan membandingkan harga diskon utamanya yang berhubungan dengan keperluan bayi. Setelah capek berkeliling ke toko-toko baju, sepatu, prams, baby stuff, ia menuju bagian keperluan dapur dan kulkas.

Di sampingnya, di bagian susu dan yogurt, ada seorang anak gadis kecil yang rambutnya dikuncir dua. Umurnya mungkin tak lebih dari tiga tahun. Ia sedang menemani ibunya berbelanja. Girang sekali. Sambil mengelus-elus perut bulatnya, Putri memandang anak kecil riang itu.

Mommy, Mommy! This yogurt has princess picture, Mommy,” kata anak kecil itu sambil mengambil satu kotak yogurt di depannya.

Yes, that’s cute, isn’t it?” balas sang ibu lalu lanjut memilih-milih susu dan mentega.

So cute!” kata si anak lagi, “Can we buy this yogurt, Mommy?

Well, do you think we need more yogurts in our fridge, honey?

Putri langsung menoleh ke arah si ibu dan anak. Ia berpikir, sekarang anak itu akan menangis meronta-ronta minta dibelikan yogurt bergambar princess itu. That’s what kids do, right?

Wrong.

Anak itu terlihat sedang berpikir sebentar, lalu dengan manis menaruh yogurt itu kembali. Lalu langsung dengan riangnya lagi melihat-lihat barang yang lain lagi, seperti tidak pernah terjadi apa-apa yang membuatnya kecewa.

Kejadian sederhana, tapi menurutnya sangat bermakna. Kalau ia menjadi ibunya, sangat mungkin ia akan langsung membelikan yogurt bergambar princess itu. Berapa sih harganya, dibanding dengan kepuasan dan kegembiraan anaknya mendapatkan apa yang ia mau. Lagi pula, apa bisa anak sekecil itu sudah diharapkan mengerti dan tahu apa isi kulkas di rumah mereka, apakah masih yogurt di rumah atau tidak.

Semuanya bisa jauh lebih mudah jika anak diajarkan mengerti keadaan rumah, belajar ikut berperan, bertanggung jawab sesuai porsinya dan mengurangi resiko tantrum (mengamuk atau marah-marah) di depan umum. Karena kalau anak itu diberikan yogurt sekarang, besok-besok entah apa lagi yang akan diminta anak itu kalau ia tahu semua yang dia minta akan diberikan.

Sumber gambar

.:Selesai:.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Berdonasi Sejak Dini

BERDONASI SEJAK DINI
Penulis: Made Hery Santosa

Sinopsis: Rachela berteriak kegirangan ketika melihat kotak donasi unik di dekat kolam anjing laut dan penguin. Ia langsung meminta koin untuk dimasukkan ke kotak tersebut. Apa yang terjadi ketika ia mencoba memasukkan koin sumbangan? Nilai apa yang bisa kita petik dari aktivitas sederhana ini?

berdonasi sejak dini 1“Mommy, mommy, look!” Seru Rachela suatu siang ketika kami berkunjung ke kebun binatang. Ia menunjuk-nunjuk sebuah kotak mirip permainan pinball. Didalamnya, ada banyak uang recehan berbagai nilai. Mulai dari koin 50 sen sampai koin emas; satu atau dua dolar. Kotak ini diletakkan disamping kolam besar anjing laut. Sengaja demikian tampaknya. Ada tujuannya. Memang, baru saja kami menonton anjing laut yang berenang riang di kolam kaca besar kebiruan yang memang didesain mirip dengan habitat satwa ini. Kelihatannya, ia sangat senang akhirnya bisa melihat langsung berbagai binatang yang sebelumnya hanya ia lihat dari buku-buku cerita yang tiap malam dibacakan kepadanya. Dan kali ini, binatang anjing laut yang ia bisa lihat. Ini tentu pengalaman yang langka. Artinya, tidak setiap saat anak kecil seperti Rachela bisa melihat langsung satwa tertentu. Ketika kami melanjutkan perjalanan menuju kolam penguinlah, ia berteriak kegirangan tadi.

Kotak ini adalah salah satu kotak donasi yang banyak tersebar di kebun binatang luas ini. Tujuannya adalah pembelajaran dan upaya membantu konservasi berbagai jenis binatang, utamanya yang dilindungi atau terancam punah. Yang menarik adalah bagaimana kalau upaya ini dibuat menarik dengan desain permainan atau latar gambar yang mendorong orang mau berdonasi. Semua orang, utamanya anak-anak, pasti akan merasa senang menyumbang, apalagi jika ‘berhasil menaklukkan’ permainan yang diberikan. Kotak yang Rachela lihat sebelumnya ini juga unik. Karena didesain seperti permainan pinball, secara sederhana, uang atau koin sumbangan dimasukkan lewat bagian atas kotak. Pada bagian tertentu, ada semacam ‘papan-papan plastik’ yang bisa memantulkan koin, jika berat.

Dengan semangat Rachela meminta koin dari ibunya. Sang ibu memang selalu menyimpan koin, entah untuk keperluan belanja atau hal-hal semacam ini. Bisa donasi, kotak atau topi amal para penghibur jalanan (pemain music, akrobat, pelukis dan seterusnya). Karenanya, menyimpan koin ini bisa menjadi cukup ‘handy’. Ia kemudian menerima dua buah koin dari ibunya; 20 sen dan 50 sen. Ia berteriak kegirangan ketika mencoba memasukkan koin pertama. Sebelumnya, kami sudah memberi tahu kalau koinnya kalau bisa sampai ke dasar kotak. Koin 20 sen yang ia masukkan memang meluncur ke bawah mengenai satu papan plastik. Tapi apa yang terjadi? Koin itu berhenti. Ternyata, upaya pertama gagal! Rupanya, koin tersebut tidak cukup berat. Ia tampak sedih. Kami berusaha menenangkannya.

“It’s alright,” kata ibunya. “One more time,” saya menambahi.

Ia kemudian bersiap untuk kembali memasukkan koin kedua yang bernilai 50 sen. Kembali kami ingatkan agar lebih keras meluncurkan koinnya agar bisa sampai ke dasar, berkumpul dengan banyak koin lainnya. Ia berjinjit kembali mencoba meluncurkan koinnya. Koin tersebut turun cukup deras dan mengenai papan plastik pertama, kemudian mental ke papan plastik kedua dan langsung jatuh ke bagian dasar kotak donasi itu.

“Hooray!” teriaknya kegirangan. Mirip Peppa dalam serial kartun Peppa Pig kesukaannya.

Ini menarik karena sepertinya desain kotak donasi ini sengaja dibuat demikian. Seperti sebuah strategi dari pihak kebun binatang. Koin yang lebih berat tentu saja bernilai lebih banyak dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk jatuh sampai ke dasar kotak.

berdonasi sejak dini 2Sejak itu, setiap melihat kotak donasi atau para penghibur jalanan, Rachela selalu ingin menyumbang. Entah di jalan, di rumah sakit atau di kantor pos. Tentu saja kami tetap harus mengarahkan mana yang pantas mana yang tidak. Bisa dilihat bagaimana upaya pemerintah mendorong kegiatan beramal ini. Selain untuk kepentingan donasi, cara dan desain menarik dibuat menyenangkan. Pemberi donasi baik anak-anak maupun orang dewasa tentu akan merasa senang akan cara seperti ini. Menyumbang adalah konsep membantu orang atau pihak lain secara sukarela. Nilai ini penting ditanamkan sejak dini dengan praktik konkrit yang menyenangkan. Saya yakin, ini membantu untuk membentuk pribadi dengan karakter tulus.

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

.:Selesai:.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Made (Bukan) Murid Bodoh

MADE (BUKAN) MURID BODOH
Penulis: Imroatun Nafi’ah

Sinopsis: Mengajar itu menantang. Lebih menantang ketika harus menghadapi seorang Made yang menghakimi dirinya sebagai murid yang bodoh. Made ingin menjadi seperti orang lain. Berhasilkah ia? Bagaimana caraku sebagai guru membantunya?

MadeSelasa itu aku merasa sangat bersemangat. Itu adalah kali pertamaku mengajar dua kelas sekaligus di waktu yang sama. Menurutku mengajar dengan jumlah murid yang banyak adalah sebuah tantangan yang sangat menarik. Belum lagi tantangan yang berikutnya adalah mengajar bahasa Inggris yang dihindari oleh sebagian besar murid. Beruntungnya hari itu aku ditemani seorang partner yang baru. Istilahnya pair teaching. Mungkin saja hari itu akan sangat menyenangkan pikirku.

Setelah tiga puluh menit berlalu, aku merasa sukses mengontrol kelas besar itu. Seluruh siswa terlihat aktif dan antusias terhadap materi yang kuberikan. Sebagai hadiah untuk partisipasi aktif mereka.kuberikan permainan hasil kreasiku sendiri. Kunamai permainan itu Crazy Sentence. Tawa mereka langsung bergemuruh begitu mendengar nama permainan itu. Kujelaskan aturan permainan tersebut dengan sejelas-jelasnya. Mereka mengangguk angguk mengerti. Mulailah satu persatu dari mereka menuliskan sebuah kata di papan tulis.

Semuanya berjalan lancar hingga tiba giliran seorang murid yang dipanggil-panggil oleh temannya Made. Bukan salahku jika tidak terlalu mengenalnya. Dia bukan murid kelasku. Dia murid dikelas Ms. Putri yang saat ini sudah tidak mengajar lagi. Kulihat dia kesulitan menemukan sebuah kata kerja. Kudekati dia dan kutanya kata kerja apa saja yang dia ketahui. Made hanya menggeleng. Kutarik dia ke pinggir kelas. Kuminta partnerku untuk mengambil alih permainan yang kubuat itu.

“Made, kamu tahu tidak apa itu kata kerja?” tanyaku bersabar.

Dia hanya menggeleng dan menundukkan kepala. Sesekali dia meringis ke arah teman-temannya. Dari gerak tubuhnya kutahu dia sepertinya bosan ditanyai seperti ini. Mungkin ini bukan kali pertamanya ditanyai seperti ini. Melihat dia sepertinya tidak akan merespon akhirnya kuminta dia untuk duduk. Aku berpikir susah juga kalau harus menghandle murid seperti dia. Tapi entah mengapa hatiku berperang dengan pikiranku. Akhirnya keinginan hatiku lah yang memenangkan peperangan itu. Kuminta partnerku untuk mengambil alih kelas, sedangkan aku sendiri langsung mendekati tempat duduk Made yang ada di pojokan kelas.

“Made, Miss tahu kamu bisa kok memberi contoh kata kerja, iya kan?” tanyaku padanya.

“Saya gak tau, saya malas belajar bahasa Inggris. Saya kan bodoh.” Jawabannya cukup membuatku terdiam beberapa detik. Bagaimana mungkin dia bisa menghakimi dirinya dengan begitu kejam. Dia mengatakan dirinya bodoh. Ini membuatku tertantang untuk mengetahui alasannya.

“Siapa bilang kamu bodoh? Kamu tahu kamu sedang apa sekarang?” pancingku.

“Lagi duduk, Miss!” jawabnya sambil berusaha membuang pandangannya. Yess! Akhirnya dia mau memberikan sedikit respon yang lebih baik dari sebelumnya.

“Kalau duduk itu kira-kira sebuah hal yang dikerjakan tidak?” tanyaku lagi.

“Iya, Miss,” jawabnya masih tetap menunduk, tak berani menatapku.

“Tu kan kamu tahu kata kerja itu yang bagaimana, terus ada apa?” tanyaku penasaran. Mungkin dia kurang PD, kataku dalam hati meyakinkan.

“Saya nggak tahu bahasa Inggrisnya apa. Saya kan bodoh.” Aku tersentak mendengar jawabannya. Kata bodoh itu sudah dua kali dia ucapkan. Mungkin itu adalah salah satu kata yang membelenggu pikirannya.

“Ih, sapa bilang kamu bodoh. Kamu bisa kok. Jangan pernah bilang bodoh ya. Orang bodoh itu adalah orang yang gak mau berusaha dan gak mau mencoba. Kamu yakin kamu orang bodoh?” cecarku. “ Sekarang pinjam kamus dari temanmu, cari tiga kata kerja yang Miss berikan ya?” rayuku lembut.

Dengan malu-malu Made mencolek teman di depannya dan meminjam kamus. Sepertinya itu kali pertamanya membuka kamus. Dia terlihat kebingungan mencari tiga kata kerja yang kutuliskan. Kubiarkan dia seperti itu hingga akhirnya dia terlihat putus asa dan menaruh kamus itu di atas meja. Kuambil kamus itu dan kuberitahu cara menggunakannya. Dia menaruh perhatian penuh pada penjelasanku.

“Sekarang coba cari apa bahasa Inggrisnya belajar,” pintaku pelan. Made terlihat bersemangat mencari kata yang kuminta. Dia menunjukkan kata to study sambil mencoba menutupi perasaan senangnya itu.

“Nah, sekarang kamu tahu kan bagaimana cara menggunakan kamus. Sudah tahu juga beberapa kata kerja. Masih bilang kamu bodoh?” candaku padanya.

“Tapi kan saya gak seperti teman-teman yang pinter,” keluhnya pelan.

“Kenapa kamu ingin menjadi seperti orang lain? Kamu harus menjadi dirimu sendiri, De. Menjadi yang terbaik versi dirimu. Gak usah jadi seperti orang lain. Semua orang itu berbeda, tidak perlu menjadi seperti orang lain untuk menjadi keren. Okay?” kataku menasehatinya.

“Iya, Miss! Makasi” Made mengucapkan kata itu dengan malu-malu.

“Sekarang kamu mau kan ngerjain tugas dari Miss? Cari sepuluh kata kerja dalam bahasa Inggris ya. Kalau besok Miss gak ngajar lagi di kelas kamu, kamu cari Miss dan tunjukin kata kerja itu. Deal?”

“Iya, Miss. Miss…” Dia sepertinya ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu.

“Iya, ada apa Made?” tanyaku penasaran.

“Makasi ya. Selama ini gak ada yang mau perhatian seperti ini. Tapi Miss kok mau?” tanyanya sangat pelan.

“Karena Miss itu guru kamu. Miss tahu kamu bisa cuman kamu kurang rajin dan malu bertanya,” jawabku.

“Tapi ada guru yang bilang saya bodoh, Miss. Dan teman-teman juga mikirnya begitu,” katanya masih belum setuju.

“Made, jangan biarkan orang lain mengatai kamu sesuatu hal yang buruk. Kalau kamu terima itu mentah-mentah, itu jadi penyakit buat kamu. Jangan biarkan orang lain bilang kamu bodoh. Buktikan bahwa kamu tidak bodoh. Kamu punya sesuatu yang bisa dibanggakan, “ jelasku panjang lebar.

Made berusaha mengartikan seluruh kata-kataku. Dia masih diam merenung ketika partnerku mengakhiri pelajaran hari itu. Dan kupikir siang itu tidak hanya memberikan sebuah tantangan yang menarik. Namun juga memberikan sebuah pelajaran hidup bagiku dan juga Made. Entah darimana diriku bisa memberikan nasehat seperti itu kepada Made. Tapi kurasa semesta telah merencanakan pertemuan kami ini.

.:Selesai:.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

I Have a ‘Wow, Cool!’ Mother, Too

Story: I Have a ‘Wow, Cool!’ Mother, Too
Writer: Manik Permata

Synopsis: Naya and other students have to give a talk about their mothers in front of her class. But, she was not confident as her mother, different from others, is not working. In the end, she told something about her mother that others do not experience. What is it? How do her friends feel about her mother?

I Love MommyToday is Tuesday. Naya’s class has Morning Talk every Tuesday. This week Naya’s class is learning about Jobs. Last Friday, Mrs. Jenny asked everyone to prepare something to tell about their mother’s job. Naya had a hard time all weekend thinking what to say in class, because Naya’s mother doesn’t have any job, she is just a mother. But Naya’s mother helped her and made sure she’s got something good to tell.

In the classroom, Mrs. Jenny asks if anyone wants to come in front of the class to talk first. A few hands rise up, but not Naya’s. She is still not sure about what she is going to say. So Michael goes first.

“My mother is a dentist. She works in a dental clinic. When she works, she wears white coat, white plastic gloves and a mask. My brother and I can check our teeth whenever we want, and for free…” says Michael, followed by “Wow, cool” from all other kids. “On Saturday I sometimes visit my mother and see her working. She’s not working on Sunday so I can have her all day on Sundays.”

Then Amanda goes next.

“My mother works in a hotel. I don’t know what she’s actually doing in the hotel, but she handles a lot of things, and people wait for her to say yes for something they ask. She always tells us when there is something cool going on in the hotel, and we can come to any event in a cheaper price, or sometimes free. We also always get discount for staying in the hotel or for swimming…” says Amanda, followed by “Wow, cool!” from all other kids. “She has one day off each week, but it doesn’t always on Sunday. I wish it was on Sunday when I also don’t have school so we can spend all day together.”

Then Levi.

“My mom works in a bank. People come to the bank and give their money to my mother and then my mother will keep it safe. Or my mother will give them the money when they ask for it. My mother wears pretty blue uniform when she works. I can change my money into another kind of dollars when I have enough amount of money. Now I have one American dollar, one Australian dollar coin, five Singapore dollars, and many other coins…” says Levi, followed by “Wow, cool!” from all other kids. “She goes home a bit late, so I always have a late dinner. But she doesn’t work on weekends, which is nice because I have two days with her.”

Now Naya feels more nervous than before. Everybody’s mother has cool job, where they get nice things from their mothers’ jobs. But now is Naya’s turn.

“My mother works at home. She doesn’t wear any uniform, but she always looks pretty. I see her every day. She is there when I wake up; opening the curtain for me and the sun hurts my eyes. She is there getting my breakfast ready, and I always have different breakfast every day. She is there when I get home from school, ready with the yummiest afternoon snack, and delicious dinner every night. She is there when I have stories to tell, and play princess with me. She used to read stories for me but now I can read, so we read together. She doesn’t have a day off so I can be with her whenever I want” says Naya, and to her surprise, everybody says “Wow, cool!” and applauds enviously.

Image Source

.:The End:.

Click this ISSUU link to download and read the e-book version. Don’t forget to share, thank you :)

Gadis Kecil dari Desa Tulibisu

Cerita: Gadis Kecil dari Desa Tulibisu
Penulis: Made Hery Santosa

Sinopsis: Seperti Deja Vu. Mata bulat Ayu menatap orang yang datang bersama bule-bule ke sekolahnya. Ia seperti pernah melihat orang tersebut. Tapi dimana? Ia juga ingat sering bermain dengannya. Siapa dia? Apa yang ia pelajari dari orang tersebut?

Mata bulat Ayu tampak berbinar. Baru saja, ia seperti melihat seseorang yang rasanya ia pernah kenal sebelumnya. Tapi ia lupa dimana dan bagaimana. Orang tersebut masih sibuk dengan bapak Kepala Sekolah, Bapak guru yang mengajar bahasa tulibisu, dan beberapa orang-orang bule.

Ketika bel sekolahnya berdentang, ia kemudian dengan malu-malu mengintip orang tersebut. Ia hanya melihat dengan mata bulatnya. Orang itu tampak masih sibuk berbicara dengan bule-bule itu dan bapak kepala sekolah. Samar-samar ia dengar dari ruang kepala sekolah.

“Ini kelas inklusi, dimana kelas anak-anak tulibisu mulai bisa mendapatkan pendidikan seperti anak normal lainnya, satu-satunya di Asia.”

Ayu lahir 7 tahun lalu di desa Bengkala, salah satu desa di kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, Indonesia. Desa ini terkenal dengan adanya komunitas tulibisu yang berbaur dengan penduduk yang normal. Jumlah penutur tulibisunya saat ini adalah 45 orang, namun termasuk terbesar di dunia. Orang-orang bilang bahwa banyak orang tulibisu di desanya yang lahir dari orang tua normal, namun ada yang orangtuanya tulibisu namun anaknya lahir normal (mendengar). Ayu adalah salah satunya. Kedua orang tuanya tulibisu, kakek neneknya tulibisu, pamannya tulibisu. Dari enam anggota keluarga tersebut, ia satu-satunya yang bisa normal (mendengar).

Kelas Inklusi Desa Bengkala

Kelas Inklusi Desa Bengkala

Mata bulatnya kembali bertanya-tanya, mengingat-ingat wajah seseorang yang rasanya ia pernah lihat. Di masa kecilnya, orang ini sering menggendong dan memberinya makanan kecil setiap sore. Ia masih mencari-cari jawaban dengan mata bulatnya. Rombongan tersebut mulai keluar dari ruang kepala sekolah, menuju salah satu kelas. Tampaknya ke ruang kelas 4. Ayu tahu, di kelas itu ada 2 anak tulibisu yang belajar bersama anak-anak normal lainnya. Satu orang sudah berumur 17 tahun, satunya lagi, 15 tahun. Namun mereka sangat bersemangat. Salah satunya baru saja menjadi juara I lomba tolak peluru di tingkat provinsi.

Di kelas itu, Ayu mendengar guru pengajar kelas tuli bisu mengajarkan kata-kata sederhana dalam kata kolok*. Menariknya, teman-temannya juga membantu karena bisa berkomunikasi dalam bahasa isyarat tersebut. Ayu hanya bisa mendengar sebentar karena bel tanda masuk kelas sudah berdentang kembali.

“Ayu sepertinya tahu orang itu. Dia sering datang setiap sore, membawa jajan, sambil menggendong dan memeluk Ayu”, batinnya.

“Ia juga membelikan Ayu baju princess berwarna merah muda dulu”, lanjutnya.

Anak-anak Tulibisu Belajar

Anak-anak Tulibisu Belajar

Tak sabar, ia menunggu bel istirahat berbunyi kembali. Ketika bel sudah berbunyi, ia segera keluar kelas dan mencari orang tersebut. Ayu lihat rombongan tersebut masih ada. Sekarang mereka sedang melihat kelas khusus untuk anak-anak tulibisu itu. Ayu lihat ada 6 orang anak tulibisu saat ini yang sedang usia sekolah dan mau bersekolah di sekolah ini. Entah apa teman-teman tulibisunya lakukan di kelas itu, tapi banyak ia lihat foto-foto mereka sedang belajar alphabet dan bahasa isyarat. Tampaknya, teman-teman tulibisunya ingin juga belajar. Ia senang sekali. Guru yang mengajar teman-teman tulibisunya sangat bersemangat, penuh dedikasi dan pengabdian.
Rombongan tersebut kemudian bercakap-cakap di lapangan sekolah depan kelasnya. Kadang ia tidak mengerti apa yang diucapkan, bahasanya juga tak ia pahami. Diantara kerumunan teman-temannya, dengan malu-malu ia terus memandang orang itu. Sampai akhirnya…

“Ahhh, ini Ayu kan?” Orang itu bertanya, tampak kaget.

Ayu hanya tersenyum. Senang sekali, orang itu ternyata mengenalinya.

“Iya”, sahutnya.

Orang itu langsung memeluknya, mengusap-usap rambutnya dengan penuh sayang. Ayu sangat bahagia. Dulu, orang ini selalu melakukan hal yang sama.

Saat orang ini sering datang beberapa tahun lalu, Ayu sudah yatim, ayahnya yang tulibisu meninggal karena kecelakaan. Pamannya yang tulibisu juga sudah meninggal. Saat ini, Ibunya yang juga tulibisu kembali ke desa asalnya. Ia sekarang hanya tinggal dengan kakek neneknya yang tulibisu.

“Ayu, sini dulu.”

Dengan malu-malu, Ayu mendekat.

Orang itu tampak mencari-cari sesuatu dalam tasnya.

“Ini ada jajan, buat Ayu. Rajin belajar ya” kata orang itu sambil mengusap rambut tebalnya lagi.

Ayu mengulurkan tangan mungilnya. Ia ingat, ia memanggilnya Bli**.

.:Selesai:.

* Bahasa isyarat desa Bengkala, berbeda dengan ISYANDO
** Panggilan kakak laki-laki bagi orang Bali

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

The Free Joy

Story: The Free Joy
Writer: Manik Permata

Synopsis: Bluey, Gweeny, Coco and Neenee met Joy a few days ago, when Joy stopped by the window where Bluey and Geene’s cage was hanged by. Joy was panting, but her face was really happy. Why? What did Joy tell Bluey, Gweeny, Coco and Nenee?

Grey-headed_Canary-Flycatcher“Wow, we have papaya today, my friend!” chirps Bluey, a blue parakeet excitedly. A green parakeet standing next to it nods as excitedly. “You guys should try this sometime” chirps Bluey again, this time to the fish in the aquarium at the corner of the room, Coco and Neenee.

“No thanks, this fish food is still the best of all” says Coco, making a lot of bubbles as he speaks.

“Ever” adds Neenee.

“If Joy comes, she will be sooo jealous” chips Gweeny the green parakeet again.

Bluey, Gweeny, Coco and Neenee met Joy a few days ago, when Joy stopped by the window where Bluey and Geene’s cage was hanged by. Joy was panting, but her face was really happy.

“Hey… buddies… how you doing? Nice cage you’ve got” said Joy, catching her breath. Bluey and Gweeny stared at each other. This lady bird just came from nowhere.

“I’m Joy Canary, by the way. Whew… what a hot day, isn’t it?” Joy kept chirping.

“Hi Joy, I’m Gweeny and this is Bluey” said Gweeny.

“And we’re Neenee and Coco!” Neenee yelled from inside, making the water in the aquarium wavy.

“Oh hi guys,” replied Joy happily. “That’s just what I need, water! Can I fly in and a sip from your bowl?” Joy asked the clown fish.

“Sure, we never run out of water anyway” the fish replied.

Joy flew back to the branch of the tree just outside the window.

“You flew here just to find water? You have no water at your house?” asked Bluey.

Joy smiled. “No. I don’t have a house. I’m a free bird. I sleep on any tree I want. Sometimes if I like the area, I might make a nest and stay for a few days. But now I’m on my new adventure. This area is new to me. It’s such a hot day to fly around. Lucky to find you guys here.”

Bluey and Gweeny never know how it feels to live like that. They like their lives so much, they have a place to stay, to sleep, yummy food to eat every day, clean cage (no matter how messy they make it at the end of the day), humans to sing to, what more could they ask for? Coco and Neenee have the same thought.

Why is Joy always so happy even though she doesn’t seem to have a plan of where to go or what to do the next day? But they always wait for Joy to come by, as Joy always has interesting story to tell. Yesterday Joy told them she saw some children fed the ducks in the park, and the ducks got upset before Joy flew around above them and caught some of the bread crumbs from the children. But the children laughed at her action. That felt so good, Joy said. Then Joy sang to those children and the children got happier.

The two parakeets and two clown fish didn’t know what park was, but Joy explained it to them. It sounded like a good place, Gweeny said yesterday. But Bluey wasn’t interested in going there. If ducks and strange humans were there, what other creatures could be there too? The thought is just too scary for Bluey.

This afternoon while the parakeets are enjoying their second papaya, Joy comes.

“Oy Joy! Look what we have!” Bluey chirps, showing off their piece of papaya. “Have you tried this? Come and try it” Gweeny offers her.

“Thanks mates. I’m so full; I could literally explode if I touch that papaya” Joy replies.
“You know what this is?” Bluey is surprised.

“O yeah, I tried my first papaya long ago in that area over the lake. A few houses there have them on their little garden. I tried some on the tree, but I think the bats tried them before me”

Bluey and Gweeny envy Joy, but they don’t know how to express it. They stare at Joy, waiting for another story from her. These last few days, it’s like they’re waiting for a bedtime story, a fairytale, from a world they never knew.

This afternoon Joy tells them a story of her morning that she was flying around singing to herself, when she heard a crack of a branch near her. Then she saw some boys was playing catapult. They were shooting the trees around her. No! They were shooting Joy. Joy tried to avoid the shot but she was panicked. Until suddenly another canary came and showed her how to get out of there and where to go.

“Now I have a new friend, his name is Rory. He is building a nest over there now and I’m helping him, maybe I would stay there for a few days too. So I thought I should come and say hello to you guys”

“You live surprisingly well, for a homeless bird” said Coco from inside.

“I’m not homeless. This entire universe is my home. Come on, we have wings. We have no limit of space. And you guys have fins, the wide ocean is almost as big as this universe” Joy says.

“But isn’t this a good life we have? Home, food, room service. Humans even clean our poo for us” Bluey says.

“Of course it’s a good life you have. But don’t you want to know what’s out there? Don’t you want to know what those wings of yours can do? Or how far can you go?”

Bluey and Gweeny don’t know what to say.

“And Coco, Neenee, don’t you want to know what you can find under the sea? Find new friends, fresh water, endless space. The corals are real, you know. I know a few friends who said so” Joy continues.

Coco and Neenee also don’t know what to say.

“But isn’t that a lot of work? A lot of things to worry about? Food hunting, building nest, avoiding bad humans. We don’t have nine lives” Gweeny says in a worried voice.

“Those things you mentioned are parts of the adventure and the fun. It’s easier than you think, the food is everywhere, and the trees are everywhere. Humans are everywhere too; who knows you meet the sweet ones and they give you crumbs for totally free.”

“Gweeny, that sounds like fun” Bluey says, tempted.

“And risky” Gweeny replies.

“But, now this tank seems boring, after hearing everything from Joy” Coco says.

“Look guys, I know this place of yours is comfortable, and you have wonderful humans living with you. But isn’t this getting too comfortable that nothing is excited anymore? Get out of the comfort zone, and live this life freely. You guys are meant to fly. And you two are meant to swim with no glass wall.”

“What about our humans? They will be sad to see us gone” says Neenee.

“Well I’m sure they’ll be happy if they see you happily live your new lives.”

The next day, Joy and Rory help the two parakeets and the two clown fish escape from their comfort place, into this outside world full of wonders. And Joy was right; they enjoy their different kinds of fun every day. Leaving the comfort zone is not that scary after all.

.:The End:.

Click this ISSUU link to download and read the e-book version. Don’t forget to share, thank you 🙂