Menebar Kebaikan Itu Bisa Lintas Bangsa

networkingSuatu malam, sahabat saya dari Saudi Arabia bernama Medo menelpon saya. Ia bercerita tentang perjuangannya saat ini untuk bisa segera maju ujian PhD. Saya paham bagaimana rasanya. Saya sudah melewatinya dan bagian ini sangat unik, berkesan namun tidak main-main. Ia meminta bantuan saya untuk mentranskripsi rekaman hasil konsultasinya. Saya katakan silahkan saja kirim dokumen dan file audionya. Diantara semua itu, satu hal menarik yang ia katakan adalah tentang sebuah dompet yang ia temukan dua hari sebelumnya.

Ia berkata bahwa ia menemukan sebuah dompet di pinggir jalan di daerah city di kota Melbourne. Ia sudah melihat dompet ini sebelumnya dan tidak tertarik untuk mengurusinya. Namun setelah selesai dengan kegiatannya, ia masih melihat dompet itu di jalan. Tak seorang pun yang hirau dan mengambilnya. Ia kemudian putuskan untuk mengambil dompet itu. Ketika ia buka, didalamnya berisi beberapa lembar uang, kartu pengenal dan surat ijin mengemudi. Yang menjadi menarik adalah kalau pemiliknya orang Indonesia. Ia tahu karena ia dekat dengan orang Indonesia dan pernah kesana.

Ia bertanya apakah saya kenal dengan nama ‘Burhan’. Namun nama ‘Burhan’ yang saya kenal ternyata tidak sesuai dengan ciri yang ia gambarkan. Dan teman saya ini orang Malaysia, bukan Indonesia. Ia kemudian mengirim foto SIM pemilik dompet via Whatsapp. Saya lihat ia masih muda. Mungkin masih studi Bachelor. Saya katakan kepada Medo saya coba bantu. Keesokan harinya, saya coba bertanya melalui Whatsapp kepada beberapa kawan. Dari kawan-kawan tersebut, ada satu sahabat saya bernama Iip. Saya biasa panggil dengan sebutan Kang Iip, karena ia Sunda. Kang Iip juga rekan seperjuangan saya di komunitas Indonesia Belajar. Bersama-sama, kami bahu membahu membantu perbaikan pendidikan Indonesia dengan berbagai cara, seperti beasiswa, mentoring, video dan cerita inspiratif.

Karena Kang Iip ini berlatar belakang jurnalis, ia pasti punya kawan banyak. Ia saya lihat menyebarkan broadcast saya ke milis komunitas Indonesia di Melbourne. Saya sebenarnya bisa juga namun saat itu saya masih on the go, sehingga tidak cukup handy melakukannya. Saya berencana akan melakukannya ketika sudah pulang di malam hari. Namun, ketika saya masih di tram, sebuah sms masuk, mengatakan bahwa ia adalah Burhan. Saya sungguh senang. Saya langsung sambungkan ke sahabat saya Medo. Mereka kemudian berjanji bertemu dan Medo mengembalikan dompet Burhan. Saya dan Medo tidak kenal Burhan. Medo orang Saudi yang tidak dekat konteksnya dengan seorang Burhan dari Indonesia. Namun saya lihat ketulusan hati dari seorang Medo. Kali ini, saya hanya menjadi perantara kebaikan Medo. Sebenarnya, berbuat baik itu tak kenal asal muasal, latar belakang dan bisa lintas bangsa. Ini masalah hati.

Tulisan ini saya ambil dari sini.

.:Selesai:.

The post Berbuat Baik Itu Bisa Lintas Bangsa appeared first on Menginspirasi.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Advertisements

Kebaya Pinjaman

KEBAYA PINJAMAN
Penulis: Pande Made Sumartini

Kebaya

Sinopsis: Pande saat ini sedang berada di Newark, US. Ia mencoba merefleksi salah satu mosaik hidupnya ketika seorang Ibu membantunya dulu. Apa yang ia rasakan dan bagaimana ia mengekspresikannya?

NEWARK. Membuka file-file foto lama, sebuah cerita terputar kembali di kepala saya. Kisah ini terjadi hampir enam tahun yang lalu. Betapa waktu cepat sekali berlalu dan banyak hal telah berubah. Saya mensyukuri setiap perjalanan yang saya lalui di kota kecil di utara pulau Bali itu.

Hari itu entah hari apa, saya tidak ingat lagi. Namun kesan yang melekat di kepala saya begitu kental. Seperti menonton film hitam putih di telivisi kotak Akari merek jaman dulu. Saya dan teman-teman begitu gembira karena kami sudah menyelesaikan ujian sarjana beberapa hari sebelumnya. Perbaikan skripsi pasca ujian bukan masalah besar bagi saya, karena tulisan saya tidak memiliki hal-hal krusial yang harus diperbaiki. Diantara kesenangan itu saya pribadi memiliki kecemasan yang sedikit lebih besar dari teman-teman. “Lulus” berarti saya harus segera mendapatkan pekerjaan, yang saya harapkan akan cukup baik untuk memulai lembaran baru, untuk membayar utang kuliah yang telah menumpuk hampir empat tahun. Ini termasuk utang materi dan utang budi, yang akan saya bawa seumur hidup. Belum lagi pikiran tentang diri saya yang belum memiliki sepeda motor untuk dibawa melamar pekerjaan dan kemudian bekerja. Sungguh hari-hari setelah ujian sarjana membuat saya merasa seperti naik wahana Transformer Ride di Universal Studio Hollywood (yang saat itu saya hanya bisa mimpikan).

Hari itu, saya juga merasa canggung sekaligus sedikit tidak percaya diri. Untuk pertama kalinya saya akan pergi ke salon kecantikan untuk dirias dalam rangka menyiapkan foto ijasah. Dalam hati saya sedikit menggerutu, mengapa foto ijasah wanita mesti dalam busana adat dengan tata rias segala. Ingin rasanya saya memiliki foto ijasah yang terkesan lebih professional, seperti foto ijasah para pria, dengan menggunakan kemeja berkerah dan jas. Hal ini akan menunjukkan wajah-wajah yang professional seperti aslinya, bukaan rekayasa riasan yang tebalnya sampai satu sentimeter. Di sisi lain kondisi keuangan ketika itu yang sangat pas-pasan membuat sesi berfoto dan ke salon menjadi beban pikiran. Ditambah lagi saya tidak memiliki pakaian yang sesuai. Meminjam pada teman juga tidak memungkinkan karena ukuran badan saya yang di atas rata-rata ukuran teman-teman saya. Bahkan, ibu dan nenek saya selalu berkata “Pang saruan lacure, awake gede” (Agar tidak terlalu kentara miskin, badanmu kan besar).

Dan berangkatlah saya berbekal kebaya dan kain lusuh bersama kawan-kawan ke sebuah salon di Jalan Jalak. Ibu salon menyambut kami dengan senyum ramah. Beliau walau sudah berumur namun masih sangat cantik. Nama salonnya kalau tidak salah ada kata Ayu-nya. Sungguh cocok dengan sang pemilik. Sehari sebelumnya, salah seorang teman kami sudah bertandang dan membuat janji untuk riasan hari itu. Sudah disepakati kami hanya perlu membawa pakaian. Selain tata rias wajah dan rambut, Ibu salon akan menyediakan segala kebutuhan hiasan rambut. Dan mulailah tangan dingin ibu penata rias dibantu oleh menantunya, menyulap wajah-wajah kami yang kurang perawatan menjadi sedikit ‘cling’. Walaupun merasa tidak percaya diri, saya cukup senang juga dirias seperti itu, seperti kebanyakan wanita.

Sekitar dua jam kemudian, kami semua sudah tampak berbeda. Kemudian saatnya mengganti pakaian. Saya mengambil kebaya dan kain dari tas tangan warisan sepupu saya. Lalu mulai melilitkannya pada tubuh saya. Seingat saya kain dan kebaya itu dibelikan Ibu saya beberapa tahun sebelumnya dengan harga masing-masing lima belas ribu rupiah. Dalam acara adat dan keagamaan Hindu biasa, kain dan kebaya itu wajar-wajar saja. Namun dalam kondisi wajah dirias bak putri raja yang akan dilamar pangeran berkuda putih, nampaknya pakaian saya sungguh tak sepadan. Tapi apa boleh buat, walau merasa aneh, saya bertekad, “a piece of cloth should not ruin my day, today will end quickly, and soon it will be forgotten.” Ini cara saya menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan yang terjadi dalam keseharian saya. Saya bertekad untuk lebih terfokus pada kebahagiaan melihat wajah-wajah kami yang tiba-tiba cantik. Terasa lucu dan unik!

Tak saya sadari, ketika mengenakan pakaian ternyata mata Ibu penata rias tertuju pada saya. Mungkin merasa kasihan pada kecantikan saya – yang walau tak secantik Julia Robert tapi tak kalah dari Julia Perez – (hehehe) beliau mendekat dan menyodorkan satu stel kebaya dan kain berwarna pink. “Adik pakai ini saja, tidak usah menyewa, ibu kasi pinjam gratis”. OH MY GOD, MY LORD, JESUS, BETARA (DEWA) DARI SABANG SAMPAI MERAUKE, ada sensasi aneh di perut dan dada saya ketika beliau menawarkan pakaian bernuansa hari Valentine itu. Saya tidak ingat apa saya hendak menangis atau hanya cengar-cengir bahagia dengan kebaikan Ibu penata rias yang cantik luar dalam itu. Namun hal ini sungguh tak akan saya lupakan. Oke pernyataan sebelumnya tentang ‘today will be forgotten” diralat menjadi kalimat negatif yang memberi makna positif dalam perjalanan hidup saya.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah yang juga diucapkan oleh Wakil Presiden Amerika Serikat beberapa hari lalu dalam acara wisuda University of Delaware yang saya ikuti sebagai relawan “You may forget what they said but never how they made you feel.”

Terima kasih Ibu Ayu, pemilik dan pengelola salon kecantikan di Jalan Jalak Singaraja. Walau ibu tidak kenal saya, bukan ponakan, bukan anak kos sekitar komplek, tapi Ibu sudah menjadi salah satu nuansa manis dalam sejarah hidup saya.

Salam dari kota kecil Newark, Delaware, USA
Tulisan ini saya buat dalam persiapan pulang kampung setelah merantau 10 bulan di Negeri Paman Sam sebagai penerima Fulbright FLTA.

Sumber gambar

.:Selesai:.

The post Kebaya Pinjaman appeared first on Menginspirasi.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Bagian Tiga: Can You Carry It for Me, Please?

Bagian Tiga: Can You Carry It for Me, Please?
Penulis: Manik Permata & Made Hery Santosa

Sinopsis: Seorang anak kecil yang kira-kira berumur lima tahun tampak kerepotan membawa tas ranselnya. Ia merengek miminta bantuan ibunya yang tak kalah repotnya membawa koper-koper besar menuju tempat check in di bandara. Apa yang anak tersebut katakan? Bagaimana ia merespon ibunya?

Carry BagSaya sedang mengantar teman yang akan pergi ke luar negeri. Di bandara, kami melihat seorang ibu berdua dengan anaknya sedang kerepotan membawa barang-barang. Tangan si ibu sudah penuh dengan dua koper besar dan satu ransel kecil. Si anak, yang mungkin sekitar lima tahun, juga kerepotan membawa satu ransel dan satu boneka di tangannya. Si anak terlihat tidak senang.

“Lihat tuh, kayaknya sebentar lagi anak itu menangis” kata teman saya. Mendengar ini, saya diam saja mengamati.

“Kasihan tuh anaknya disuruh bawa tas sendiri” kata teman saya lagi, dan saya tetap cuma diam, tersenyum kecil kali ini.

Mommy, I’m tired, I don’t want to carry this anymore. Can you carry it for me, Mommy?” rengek si anak.

Mungkin benar kata teman saya, sebentar lagi ia akan menangis.

Well, you’re the one who wanted to put your toys in there, sweetie, so you carry it,” balas si ibu.

Lagi-lagi respon yang ajaib yang saya dengar. Yang di luar dugaan.

“Tega sekali ibunya ya, anak kecil begitu disuruh bawa tas sendiri,” kata teman saya lagi. “Apa dia tidak dengar respon ibunya tadi?”

“Kan tas anak itu mainan semua isinya, ya punya dia lah,” kata saya, kali ini merespon.

“Tapi namanya juga anak kecil, kan bisa ibunya yang bawain,” teman saya membalas.

“Tapi anak itu yang bawa sendiri kan juga bisa,” saya berusaha menjelaskan.

Lalu teman saya hanya berkata sesuatu yang kedengaran seperti ‘huft’ saja.

Kejadian seperti ini memang tampaknya sederhana. Sebelum dua kejadian sebelumnya (baca cerita bagian satu dan dua), saya bisa jadi berpikir kalau saya jadi ibunya, saya tentu saja akan membawakan ransel anak saya.

“Tas ransel anak kan kecil, tidak begitu berat, apa susahnya sih.”

Seperti kata teman saya, kasihan kan anak kecil harus susah begitu. Tapi saya setuju dengan ibu itu. Itu adalah tas si anak, isinya pun mainan si anak semua. Tidak ada salahnya dia belajar bertanggung jawab sedari kecil. Harapannya, di lain kesempatan dia bepergian, dia akan lebih bijak mengisi tas bawaannya.

Sumber gambar

.:Selesai:.

 Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

A Silver-haired Girl

A SILVER-HAIRED GIRL
Writer: Made Hery Santosa

Silver haired girl“Why is my hair silver, mother?” asked a young, but crippled, little girl to her mother on a cold winter day.
“Oh, it’s because you were born at night,” said the mother, wisely looking at the girl’s round eyes.
“I don’t understand,” said the young girl. Her eyes got widened. “Why could it become silver when I was born at night?” The girl asked, full of wonder.
“That night was full of stars and the moon shone brightly. Seemed perennial. And one day, you’ll see,” replied her mother.

*

“Why is my hair silver mother?” A one-legged child asked her mother on a dry summer day.
“It’s because you were born during the daylight, my love,” replied the mother, full of compassion
“I don’t understand,” the girl responded with her eyes got smaller, “why would it be silver if I was born during the daylight?
“That day was very hot with a dry air breeze. It’s seemingly perpetual. And one day you’ll see.”

*

“Why is my hair silver, mother?” asked a one-eyed cheerful daughter to her mother, while she’s in roaming walks.
“Oh, it’s because you were born in a day where the sun was reluctant, sweetheart.” Her mother replied patiently.
“I don’t understand,” replied her quickly, “why would my hair be silver when there was little sun?”
Her mother, while caressing her, said “Because the moon would accompany.”

*

“Why is my hair silver, mother? Why is it different to others?” A young girl asked her mother curiously.
“It’s because you were born when the sea was in tides.” Her mother replied, gently embracing her.
“I don’t understand,” she shook her shoulders quite strongly. “Why would my hair become silver if the tides were high?”
“My love, the tide is a mystery. The full moon shone brightly and the sea touched its passion.” Her mother replied, full of warmth.

Image source
Taken from here

.:The End:.

Click this ISSUU link to download and read the e-book version. Don’t forget to share, thank you :)

Bagian Dua: Dad, Can I Use the Yellow Glass, Please?

Bagian Dua: Dad, Can I Use the Yellow Glass, Please?
Penulis: Manik Permata

Sinopsis: Keluarga Hiashi, Nguyen dan Smith sedang piknik bersama di sebuah taman di akhir pekan yang cerah. Kejadian menarik muncul ketika anak laki-laki Robert dan Jane yang baru berumur lima tahun meminta juice dengan gelas berwarna kuning. Apa yang terjadi? Selamat membaca ya.

Juice and KidSaya dan istri saya, Haruki datang bersama Dat dan Hung bergerak menuju tempat kawan saya Jane dan suaminya Robert yang sudah duduk di sebuah taman di tepi sungai. Kami berasal dari Jepang sedangkan Dat dan Hung berasal dari Vietnam. Keluarga kami kemudian berkawan baik dengan pasangan Jane dan Robert yang asli Australia karena Haruki, Hung dan Jane merupakan rekan kerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Hari ini adalah akhir pekan yang cerah dan kami setuju untuk piknik bersama dengan keluarga masing-masing. Dengan membawa makanan sendiri, kami mulai asyik berbincang. Anak-anak mulai asyik bermain di dekat bunga-bunga yang tampak ceria bermandikan matahari. Semua tampak senang karena hari itu hari libur dan udara terasa segar.

Waktunya makan. Anak dari Jane dan Robert, berumur lima tahun, makan dengan terburu-buru, dan ingin cepat kembali bermain.

Dad, can I have that juice, please? With the yellow glass,” kata anak laki-laki itu di sela-sela makannya.

I’m using the yellow glass. Do you want to use this blue glass?” kata Robert menawarkan.

No! I want the yellow glass, Daddy,” rengek anaknya kembali.

You have to wait until I finish my drink then,” balas Robert.

Wajah anak itu sekarang cemberut, sambil terus menguyah-ngunyah rotinya dengan kesal. Hampir saya merasa kasihan. Teman-teman yang lain mungkin juga merasa begitu. Awkward silence.

Sorry mate, sometimes you can’t always get what you want” kata Robert lagi, karena melihat anaknya terus cemberut, “But I’d be happy to pour you some juice in this blue glass.

Saya menikmati makanan sambil berpikir. Kalau saya, mungkin saja tanpa terlalu berpikir banyak akan memberikan gelas kuning yang sedang saya pakai untuk anak. Apa sih susahnya, cuma gelas, saya akan mengalah mengganti dengan gelas yang lain. Tapi anak itu sudah harus mendengar pelajaran hidup macam ‘you can’t always get what you want’ di usianya yang baru lima tahun. Saya mencoba berpikir lagi. Mungkin ada pelajaran lain yang ingin disampaikan si ayah. Tidak ada salahnya anak lelaki itu belajar sejak dini bahwa dengan siapapun ia perlu mengalah. Bahwa dengan merengek tidak akan membantunya mendapatkan apa yang ia mau. Hmm, mungkin semuanya akan menjadi lebih mudah nantinya, in the long run.

Sumber gambar

.:Selesai:.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Bagian Satu: Mommy, the Yogurt Has a Princess Picture!

BAGIAN SATU: MOMMY, THE YOGURT HAS A PRINCESS PICTURE!
Penulis: Manik Permata

Sinopsis: Putri sedang mencari bahan keperluan bayi di sebuah supermarket ketika ia melihat seorang anak lucu meminta yogurt kepada ibunya. Terjadi sebuah percakapan pendek menarik antara keduanya. Bagaimana si anak meminta? Bagaimana si ibu menekankan pemahaman dan tanggung jawab? Simak ceritanya ya…

Yogurt-Kid

Sebagai calon ibu, Putri sering pergi hunting untuk mengecek dan membandingkan harga diskon utamanya yang berhubungan dengan keperluan bayi. Setelah capek berkeliling ke toko-toko baju, sepatu, prams, baby stuff, ia menuju bagian keperluan dapur dan kulkas.

Di sampingnya, di bagian susu dan yogurt, ada seorang anak gadis kecil yang rambutnya dikuncir dua. Umurnya mungkin tak lebih dari tiga tahun. Ia sedang menemani ibunya berbelanja. Girang sekali. Sambil mengelus-elus perut bulatnya, Putri memandang anak kecil riang itu.

Mommy, Mommy! This yogurt has princess picture, Mommy,” kata anak kecil itu sambil mengambil satu kotak yogurt di depannya.

Yes, that’s cute, isn’t it?” balas sang ibu lalu lanjut memilih-milih susu dan mentega.

So cute!” kata si anak lagi, “Can we buy this yogurt, Mommy?

Well, do you think we need more yogurts in our fridge, honey?

Putri langsung menoleh ke arah si ibu dan anak. Ia berpikir, sekarang anak itu akan menangis meronta-ronta minta dibelikan yogurt bergambar princess itu. That’s what kids do, right?

Wrong.

Anak itu terlihat sedang berpikir sebentar, lalu dengan manis menaruh yogurt itu kembali. Lalu langsung dengan riangnya lagi melihat-lihat barang yang lain lagi, seperti tidak pernah terjadi apa-apa yang membuatnya kecewa.

Kejadian sederhana, tapi menurutnya sangat bermakna. Kalau ia menjadi ibunya, sangat mungkin ia akan langsung membelikan yogurt bergambar princess itu. Berapa sih harganya, dibanding dengan kepuasan dan kegembiraan anaknya mendapatkan apa yang ia mau. Lagi pula, apa bisa anak sekecil itu sudah diharapkan mengerti dan tahu apa isi kulkas di rumah mereka, apakah masih yogurt di rumah atau tidak.

Semuanya bisa jauh lebih mudah jika anak diajarkan mengerti keadaan rumah, belajar ikut berperan, bertanggung jawab sesuai porsinya dan mengurangi resiko tantrum (mengamuk atau marah-marah) di depan umum. Karena kalau anak itu diberikan yogurt sekarang, besok-besok entah apa lagi yang akan diminta anak itu kalau ia tahu semua yang dia minta akan diberikan.

Sumber gambar

.:Selesai:.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)

Berdonasi Sejak Dini

BERDONASI SEJAK DINI
Penulis: Made Hery Santosa

Sinopsis: Rachela berteriak kegirangan ketika melihat kotak donasi unik di dekat kolam anjing laut dan penguin. Ia langsung meminta koin untuk dimasukkan ke kotak tersebut. Apa yang terjadi ketika ia mencoba memasukkan koin sumbangan? Nilai apa yang bisa kita petik dari aktivitas sederhana ini?

berdonasi sejak dini 1“Mommy, mommy, look!” Seru Rachela suatu siang ketika kami berkunjung ke kebun binatang. Ia menunjuk-nunjuk sebuah kotak mirip permainan pinball. Didalamnya, ada banyak uang recehan berbagai nilai. Mulai dari koin 50 sen sampai koin emas; satu atau dua dolar. Kotak ini diletakkan disamping kolam besar anjing laut. Sengaja demikian tampaknya. Ada tujuannya. Memang, baru saja kami menonton anjing laut yang berenang riang di kolam kaca besar kebiruan yang memang didesain mirip dengan habitat satwa ini. Kelihatannya, ia sangat senang akhirnya bisa melihat langsung berbagai binatang yang sebelumnya hanya ia lihat dari buku-buku cerita yang tiap malam dibacakan kepadanya. Dan kali ini, binatang anjing laut yang ia bisa lihat. Ini tentu pengalaman yang langka. Artinya, tidak setiap saat anak kecil seperti Rachela bisa melihat langsung satwa tertentu. Ketika kami melanjutkan perjalanan menuju kolam penguinlah, ia berteriak kegirangan tadi.

Kotak ini adalah salah satu kotak donasi yang banyak tersebar di kebun binatang luas ini. Tujuannya adalah pembelajaran dan upaya membantu konservasi berbagai jenis binatang, utamanya yang dilindungi atau terancam punah. Yang menarik adalah bagaimana kalau upaya ini dibuat menarik dengan desain permainan atau latar gambar yang mendorong orang mau berdonasi. Semua orang, utamanya anak-anak, pasti akan merasa senang menyumbang, apalagi jika ‘berhasil menaklukkan’ permainan yang diberikan. Kotak yang Rachela lihat sebelumnya ini juga unik. Karena didesain seperti permainan pinball, secara sederhana, uang atau koin sumbangan dimasukkan lewat bagian atas kotak. Pada bagian tertentu, ada semacam ‘papan-papan plastik’ yang bisa memantulkan koin, jika berat.

Dengan semangat Rachela meminta koin dari ibunya. Sang ibu memang selalu menyimpan koin, entah untuk keperluan belanja atau hal-hal semacam ini. Bisa donasi, kotak atau topi amal para penghibur jalanan (pemain music, akrobat, pelukis dan seterusnya). Karenanya, menyimpan koin ini bisa menjadi cukup ‘handy’. Ia kemudian menerima dua buah koin dari ibunya; 20 sen dan 50 sen. Ia berteriak kegirangan ketika mencoba memasukkan koin pertama. Sebelumnya, kami sudah memberi tahu kalau koinnya kalau bisa sampai ke dasar kotak. Koin 20 sen yang ia masukkan memang meluncur ke bawah mengenai satu papan plastik. Tapi apa yang terjadi? Koin itu berhenti. Ternyata, upaya pertama gagal! Rupanya, koin tersebut tidak cukup berat. Ia tampak sedih. Kami berusaha menenangkannya.

“It’s alright,” kata ibunya. “One more time,” saya menambahi.

Ia kemudian bersiap untuk kembali memasukkan koin kedua yang bernilai 50 sen. Kembali kami ingatkan agar lebih keras meluncurkan koinnya agar bisa sampai ke dasar, berkumpul dengan banyak koin lainnya. Ia berjinjit kembali mencoba meluncurkan koinnya. Koin tersebut turun cukup deras dan mengenai papan plastik pertama, kemudian mental ke papan plastik kedua dan langsung jatuh ke bagian dasar kotak donasi itu.

“Hooray!” teriaknya kegirangan. Mirip Peppa dalam serial kartun Peppa Pig kesukaannya.

Ini menarik karena sepertinya desain kotak donasi ini sengaja dibuat demikian. Seperti sebuah strategi dari pihak kebun binatang. Koin yang lebih berat tentu saja bernilai lebih banyak dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk jatuh sampai ke dasar kotak.

berdonasi sejak dini 2Sejak itu, setiap melihat kotak donasi atau para penghibur jalanan, Rachela selalu ingin menyumbang. Entah di jalan, di rumah sakit atau di kantor pos. Tentu saja kami tetap harus mengarahkan mana yang pantas mana yang tidak. Bisa dilihat bagaimana upaya pemerintah mendorong kegiatan beramal ini. Selain untuk kepentingan donasi, cara dan desain menarik dibuat menyenangkan. Pemberi donasi baik anak-anak maupun orang dewasa tentu akan merasa senang akan cara seperti ini. Menyumbang adalah konsep membantu orang atau pihak lain secara sukarela. Nilai ini penting ditanamkan sejak dini dengan praktik konkrit yang menyenangkan. Saya yakin, ini membantu untuk membentuk pribadi dengan karakter tulus.

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

.:Selesai:.

Klik tautan ISSUU ini untuk mengunduh dan membaca versi e-book cerita ini secara gratis. Jangan lupa berbagi ya, terima kasih :)